Sumpah Pemuda
Kemarin malam baru sadar bahwa hari ini adalah hari sumpah pemuda setelah membaca koran banjarmasin post. Kemudian saya teringat pertanyaan waktu dukuk di bangku SMP (SLTP) dulu
Apakah kalau kamu tidak mengikuti upacara pada hari senin atau pada hari-hari besar lainnya, maka rasa nasionalisme kebangsaanmu tetap ada?
Serentak seluruh kelas menjawab tentu tidak rasa nasionalisme pasti tumbuh meski kita tidak lagi mengikuti upacara-upacara yang sifatnya hanya seremonial
Ternyata setelah 8 tahun meninggalkan bangku SMP ternyata jawaban kami dulu ternyata salah buktinya tanggal 28 aja lupa hari apa taunya hanya tanggal 1 awal bulan yaitu gajian (ha-ha-ha)
File Asli
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG
SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
Nona Tumbel
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
- Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong. - 2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie
Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal tentang Sumpah Pemuda kita bisa menunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi utama seperti biola asli milik Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta foto-foto bersejarah peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda-pemudi Indonesia.
File AsliKongres Pemuda II 28 Oktober 1928 menghasilkan sebuah sumpah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Salah satu isi dari sumpah itu adalah tentang bahasa. Pada saat kongres hanya sedikit para pemuda tersebut lancar berbahasa Indonesia, yang paling fasih saat itu hanyalah Muhammad Yamin.
Jauh sebelum Sumpah Pemuda warga Tionghoa sudah lebih dulu menggunakan bahasa Melayu di akhir abad ke-19, bahkan termasuk penggunaan aksara Latin sebagai pengganti aksara Arab, terutama dalam surat kabar seperti Soerat Kabar Bahasa Melaijoe (1856), Soerat Chabar Betawi (1858), Selompret Melajoe (1860), dan Bintang Soerabaja (1860).
Di masa Pergerakan Kebangsaan setelah era Kebangkitan Nasional beredar dua surat kabar yang cukup penting yaitu Keng Po dan Sin Po. Surat kabar Sin Po adalah surat kabar yang pertama menuliskan Indonesia menggantikan nomenklatur Hindia-Belanda atau Nederlandsch-Indie.
Sejarah Indonesia di masa tersebut lebih menyenangkan untuk ditelaah dalam bentuk fiksi dengan membaca Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer, khususnya pada buku kedua Anak Semua Bangsa. Novel Remy Sylado Kembang Jepun pun mengambil setting sejarah yang sama.
File Aslioko: Ndro, tau gak loe tanggal 28 Oktober tuh diperingati sebagai hari apa?
Hendro: Mene ketehe’. Tergantung harinya lah, minggu ato senen. Emangnya tanggal segitu hari apa?
Joko: Wah parah loe…Tanggal 28 Oktober tuh Hari Sumpah Pemuda. Gitu aja kagak tau loe. You suck, man!
Hendro: Sumpe loe?!?
Joko: It’s not Sumpe Loe, but Sumpah Pemuda!
Terlepas
dari benar-benar terjadi atau tidaknya percakapan di atas, tapi itulah
gambaran kasar percakapan generasi Milenium kita, meski nama mereka
lebih mencerminkan nama-nama generasi X. Pertanyaannya memang bisa
jadi, “Apakah Sumpah Pemuda masih relevan di era globalisasi sekarang
ini?”. Saat ini bahasa Inggris sudah seperti Bic Mac dkk (hamburger) yang yang dulunya dianggap makanan mewah namun sekarang sudah hampir sekelas bakso urat. Atau malah lebih enak bakso urat ketimbang burger-burger
bermacam nama yang bahkan sudah dijual di pinggir jalan itu. Begitu
juga bahasa Inggris, meski masih mahal untuk ikut kursusnya, tapi
kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi hal yang menakjubkan dibanding
beberapa dekade ke belakang.
Lihat saja, lagu-lagu Indonesia sudah banyak yang berlirik bahasa Inggris, dialog-dialog di sinetron dan film memakai selipan bahasa Inggris, ngobrol dengan teman memakai bahasa Inggris, bahkan memesan kopi di angkringan Jogja pun sudah bisa memakai bahasa Inggris, “Pak Jo, black coffee, please!“. Memang bukan hal salah dan buruk bila bahasa Inggris merasuki kehidupan sehari-hari kita, justru itu membuatnya semakin berwarna. Tetapi penggunaannya juga harus disesuaikan dengan waktu, tempat, dan tujuan. Di kelas, memang tempatnya. Di kantor, urusan bisnis. Di kelompok belajar, untuk belajar.
Lalu bagaimana dengan para pemuda jaman perjuangan dulu yang mengambil sumpahnya tanpa persetujuan kita yang semakin hari semakin tidak tahu (dan tidak mau memakai) bahasa Indonesia yang baik dan benar? Meski demikian, sumpah itu bukan tanpa tujuan. Mereka tentunya juga telah mengkalkulasi hal yang terjadi di masa ini. Justru karena itulah mereka bersumpah bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan kita. Bahasa yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Bahasa yang bisa menunjukkan kebanggaan kita. Karena memang dari bahasa lah sebuah eksistensi sebuah bangsa dapat terlihat. Demikianlah sebuah sumpah tentang nasionalisme.
Di saat kita prihatin dengan bahasa Inggris yang sudah mulai menggeser posisi bahasa Indonesia, ada saja yang ikut memperparah keadaan. Ya, apalagi kalau bukan bahasa gaul? Bahasa yang entah datang dari mana ini menjadi suatu imej baru bagi mereka yang ingin dicap gaul. Sedangkan gaul sendiri entah apa artinya. Kata secara digunakan tidak pada tempatnya dengan sengaja, ’saya’ dirubah menjadi akika atau eike, belum lagi mene ketehe’, bo’, sumpe lo, dan istilah-istilah lain yang entah diciptakan siapa. Tapi memang harus diakui bahwa istilah-istilah gaul ini cukup ampuh sebagai tagline iklan-iklan komersil. Dan sebenarnya saya pun termasuk salah satu yang terjangkit gaulisme ini dengan ikut-ikutan memakai istilah yang hanya dimengerti sejumput orang tertentu, seperti cenger dan ciplokanong. Entah apa artinya.
Sekarang coba bayangkan bila dalam beberapa tahun ke depan semua orang berbicara dalam bahasa Inggris yang dicampur bahasa gaul dan bahasa Indonesia menjadi suatu hal yang langka di kalangan anak muda. Lantas di mana identitas sebagai bangsa Indonesia? Ingin seperti negara Commonwealth, tidak bisa karena tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Inggris. Mengaku sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan mempunyai rasa nasionalisme tinggi juga bukan, karena semakin sedikit orang yang bangga berbahasa Indonesia. Lalu apakah kita harus menjadi Negara Gaul?
Belajar bahasa Inggris itu baik. Kita tidak mau tertinggal di jaman yang semakin cepat ini kan? Kalau orang lain bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan kita tidak mengerti, hal ini juga berarti kerugian kita tidak bisa menangkap informasi. Bahkan sekarang bukan hanya bahasa Inggris saja yang populer melainkan juga bahasa Perancis, Spanyol, Cina (Mandarin), Jepang, Korea, dan Arab. Sebagai sebuah bangsa yang ingin maju kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan. Namun bukan berarti kita meninggalkan identitas kita. Pelajarilah bahasa apapun. Belajarlah bahasa Inggris, Perancis, Cina dan sebagainya untuk kebaikan bangsa ini. Dengan mengerti bahasa asing diharapkan kita bisa menyerap ilmu-ilmu yang mereka miliki, lalu mengajarkan ilmu itu pada orang lain sehingga menjadi sebuah kebaikan dan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Kita belajar bahasa Inggris adalah untuk bisa membaca buku-buku dalam bahasa Inggris, berkomunikasi dengan orang yang berbahasa Inggris, menonton berita berbahasa Inggris, dan dan hal-hal lain yang bertujuan untuk membuat kita mampu menangkap informasi lebih. Kita belajar bahasa Inggris bukan untuk menjadi orang Inggris.
|
Sepanjang sejarah Indonesia, pengertian pemuda berubah dari masa ke masa. Pada masa awal pergerakan nasional, pemuda diartikan kalangan terpelajar, baik para pelajar sekolah menengah, maupun pelajar sekolah tinggi yang mendapat pendidikan Barat, tinggal di kota, dan mengenyam kebudayaan Barat melalui pendidikan. Mereka datang dari kalangan priyayi, menengah dan rendahan. Mereka inilah yang menjadi motor penggerak tumbuhnya pergerakan nasional. Selain bergerak melalui organisasi kepemudaan, para pemuda juga bergerak melalui partai politik. PNI dan PSII, dua partai politik yang monumental dalam sejarah pergerakan nasional, didirikan dan dikelola oleh para pemuda. |
|
Sekarang yang menjadi pertanyaan, kapan sejarah pergerakan pemuda di Indonesia dimulai? Budi Utomo, organisasi pergerakan nasional pertama, yang didirikan tanggal 20 Mei 1908 adalah organisasi yang didirikan oleh para pemuda. Soetomo dan para pendiri Budi Utomo yang lain masih sekolah di STOVIA. Akan tetapi, tanggal 20 Mei 1908 tidak bisa dijadikan titik awal pergerakan pemuda. Mohamad Tabrani, Ketua Kongres Pemuda Pertama, dalam pidatonya, “Sejarah Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia, mengatakan : |
|
“…kalau bagi Kaum Tua Budi Utomo menjadi titik tolaknya (20 mei 1908), yang kemudian diakui sebagai hari kebangkitan nasional, maka bagi Kaum Muda perlambang kebangkitan nasionalnya bertitik tolak pada Tri Koro Dharmo pada tanggal 7 Maret 1915.” |
|
Hal senada diungkapkan oleh Iwa Kusumasumantri, mantan anggota dan pengurus Perhimpunan Indonesia. Iwa Kusumasumantri (1963 : 45) menulis : |
|
“…lahirlah untuk pertama kalinja pergerakan pemuda dengan nama ‘Tri Koro Dharmo’ pada tanggal 15 Maret 1915.” |
|
Keberadaan Tri Koro Dharmo sebagai organisasi pemuda pertama juga dibenarkan oleh A. K. Pringgodigdo (1990 : 24), Surjomihardjo (1979 : 55), Nugroho Notosusanto (1990 : 190). |
|
Hasil monumental dari pergerakan pemuda tahun 1920-an adalah Sumpah pemuda yang merupakan putusan Kongres Pemuda Kedua, 27 - 28 Oktober 1928. |
File Asli
ups… hampir lupa kalau hari ini merupakan salah satu hari bersejarah bagi bangsa kita. Kalau saja hari ini gak liat Televisi mungkin bakalan terlewatakan posting di hari bersejarah ini. Masih teringat waktu jaman SD dulu, setiap memperingati hari bersejarah mesti diadakan Upacara Bendera, Lha Secara Langganan mesti berperan untuk membawa Draft Pancasila yang nanti akan dibaca oleh pembina upacara dan di ikuti oleh peserta upacara, gak tau kenapa sebenarnya pembina upacara kan hafal Pancasila, gak mungkinlah seorang guru (pembina upacara) gak hafal Pancasila, tapi kenapa kok mesti harus bawa draft segala. Apakah ini menyangkut atau menghormati sejarah dari Upacara sendiri yakz.
28 Oktober adalah peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang mana Sumpah Pemuda sendiri merupakan Sumpah Setia hasil rumusan kerapatan pemoeda-pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, yang dibacakan pada 28 Oktober 1928. Yang mana tanggal ini ditetapkan sebagai “Hari Sumpah Pemuda”
Sejarah Sumpah Pemuda
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu ?em>Indonesia?karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, berbunyi :
PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.KEDOEA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.
Sudah pantaskah kita sebagai generasi muda untuk mengemban dan melaksanakan sumpa setia ini.